Tak terasa air mata pun tumpah
Mengalir lembut menyelimuti wajah
Mengiringi tangisan sunyi di kala sepi
Teringat kesalahan yang membayangi diri
Gemuruh suara dalam hati
Berharap Tuhan mau mengampuni
Semilir angin menembus jiwa
Membawa asa mengetuk pintu surga
Friday, November 2, 2012
ketika, seharusnya
Ketika ku percaya Tuhan
Seharusnya ku terima segala konsekuensi yang akan ku dapatkan
Ketika Tuhan mengirimkan sang utusan
Seharusnya ku akui ia sebagai pembawa kebenaran
Ketika sang utusan menyampaikan perintah Tuhan
Seharusnya perintah itu ku jalankan
Ketika sang utusan menyampaikan larangan Tuhan
Seharusnya larangan itu ku hindarkan
Ketika seharusnya ku lakukan
Tuhan pun akan menatapku dengan penuh senyuman
Ketika Tuhan memanggilku untuk pulang
Aku pun datang dengan penuh kebahagiaan
Seharusnya ku terima segala konsekuensi yang akan ku dapatkan
Ketika Tuhan mengirimkan sang utusan
Seharusnya ku akui ia sebagai pembawa kebenaran
Ketika sang utusan menyampaikan perintah Tuhan
Seharusnya perintah itu ku jalankan
Ketika sang utusan menyampaikan larangan Tuhan
Seharusnya larangan itu ku hindarkan
Ketika seharusnya ku lakukan
Tuhan pun akan menatapku dengan penuh senyuman
Ketika Tuhan memanggilku untuk pulang
Aku pun datang dengan penuh kebahagiaan
ah,,,
mendung berawan,,,
kilat bertebaran,,,
langit pun bergemuruh sedu sedan,,,
entah kapan ini akan hujan,,,
seberapa lama ini akan bertahan,,,
di kala panas semakin menggairahkan,,,
ah,,,
akhirnya ia datang,,,
hujan yang dinantikan,,,
gairah pun menghilang,,,
terganti sejuk yang melembutkan,,,
kilat bertebaran,,,
langit pun bergemuruh sedu sedan,,,
entah kapan ini akan hujan,,,
seberapa lama ini akan bertahan,,,
di kala panas semakin menggairahkan,,,
ah,,,
akhirnya ia datang,,,
hujan yang dinantikan,,,
gairah pun menghilang,,,
terganti sejuk yang melembutkan,,,
dia
sepuluh langkah untuk mencapai bahagia
meninggalkan dua masa yang tak lagi ada
membawa dua puluh delapan kehidupan yang seakan nyata
di saat ini ketika senja telah sirna
meninggalkan dua masa yang tak lagi ada
membawa dua puluh delapan kehidupan yang seakan nyata
di saat ini ketika senja telah sirna
dirimu
bayangmu menerpa hati
pikiranku pun segera berlari
tentang dirimu untuk dicari
agar ku tahu siapakah dirimu wahai dewi
hanya serpihan-serpihan kecil yang ku dapat
dari keagungan misterimu yang masih tersirat
tak sepenuhnya dapat ku tebak dengan tepat
sesungguhnya dirimu yang indah bagai malaikat
kita
Kehidupanmu,,,
Kehidupanku,,,
Menjadi satu,,,
Menjelma menjadi kehidupan kita,,,
Kau lihat apa yang ku lihat,,,
Kau dengar apa yang ku dengar,,,
Kau rasa apa yang ku rasa,,,
Kehidupanmu,,,
Kehidupanku,,,
Kehidupan kita,,,
Kehidupanku,,,
Menjadi satu,,,
Menjelma menjadi kehidupan kita,,,
Kau lihat apa yang ku lihat,,,
Kau dengar apa yang ku dengar,,,
Kau rasa apa yang ku rasa,,,
Kehidupanmu,,,
Kehidupanku,,,
Kehidupan kita,,,
sekelumit manusia
Manusia memiliki keinginan untuk mengetahui sesuatu. Sudah menjadi kodrat manusia akan hal itu. Terlebih lagi keinginannya untuk mengetahui masa depan.
Manusia mencoba meramalkan tentang masa depan. Masa depan yang sebenarnya tak pasti. Manusia tahu itu akan hal ketidakpastian masa depan. Terjadi atau tidaknya masa depan yang diduganya.
Manusia begitu sibuk mencari tahu hal yang tak pasti. Terlalu sibuk untuk menduga hal yang tak pasti. Sehingga lupa akan hal yang pasti.
Kematian,,,
sebuah keniscayaan,,,
sebuah kepastian,,,
yang tidak mungkin tidak terjadi pada manusia
Manusia mencoba meramalkan tentang masa depan. Masa depan yang sebenarnya tak pasti. Manusia tahu itu akan hal ketidakpastian masa depan. Terjadi atau tidaknya masa depan yang diduganya.
Manusia begitu sibuk mencari tahu hal yang tak pasti. Terlalu sibuk untuk menduga hal yang tak pasti. Sehingga lupa akan hal yang pasti.
Kematian,,,
sebuah keniscayaan,,,
sebuah kepastian,,,
yang tidak mungkin tidak terjadi pada manusia
Subscribe to:
Posts (Atom)